Green Community dan Desa Wisata Konservasi
“Ini bukan tujuan dari kami (mendapatkan
penghargaan Kehati Award). Kami hanya sekedar memotivasi orang-orang di sekitar
kami untuk tetap menjaga kelestarian hayati Indonesia”.
Demikian Adam Satya Praba Nugraha, salah
seorang anggota Green Community,
sebuah kelompok studi di Universitas Negeri Semarang sesaat setelah mendapatkan
Cipta Lestari Kehati 2012. Cipta Lestari
Kehati merupakan salah satu dari enam penghargaan yang diberikan oleh Yayasan
Keanekaragaman Hayati atas upayanya untuk menyelamatkan keanekaragaman hayati.
http://www.kehati.or.id/download/warta_kehati/WK%20Maret-Mei_Final_lowres.pdf
Green
Community
(GC) adalah sebuah kelompok studi di Fakultas MIPA Universitas Negersi Semarang.
GC berdiri pada 6 April 2006, oleh beberapa mahasiswa yang hobi naik gunung.
Waktu mereka mendaki gunung Prau, di perbatasan Wonosobo dan Batang, mereka
melihat kerusahan hutan dan pembukaan lahan besar-besaran. Dari situ muncul
keinginan mereka untuk melakukan konservasi dengan membentuk kelompok Studi.
Awalnya, kelompok studi tersebut diberi
nama Komunitas Hijau. Kemudian berganti menjadi GC. Pada tahun 2008 GC diakui
oleh pihak universitas dan berada di bawah Himpunan Mahasiswa Biologi. Saat ini
anggota GC mencapai 50 orang lebih, dari awal angkatan, dengan pengurus
sebanyak 15 orang.
GC telah melakukan penelitian
keanekaragaman hayati di gunung Ungaran, Jawa Tengah lewat pendataan kupu-kupu,
reptil, amphibi, burung serta pemetaan flora dan fauna. Saat ini, 90 spesies
kupu-kupu telah ditangkarkan, beberapa diantaranya merupakan spesies langka dan
endemik. Sementara itu, di tahun 2011, GC memberikan pendidikan lingkungan di
Sanggar Griya Cahyo, yang dikelola oleh Prof. Astani.
Tak cuma itu, GC juga melakukan outbond training kepada anak-anak SD
hingga mahasiswa. Lewat permainan-permainan, GC memasukkan unsur-unsur
lingkungan hidup, untuk mendekatkan lingkungan kepada anak-anak Sekolah. GC
juga membuat program “Mangrove for Kids,”
memperkenalkan mangrove dan kawasan pesisir kepada anak-anak Sekolah Dasar.
Kegiatan ini juga dipadukan dengan program kerja kawasan pesisir di Desa Tapak,
Tugu Rejo, Semarang.
Kegiatan-kegiatan GC bukannya tanpa
kendala. Karena tak semua yang dipikirkan dan diharapkan oleh GC bisa diterima
secara langsung oleh masyarakat. “Ada
dilemma antara konservasi dan ekonomi,” jelas Adam.
Setelah mendapatkan Cipta Lestari Kehati
ini, GC tidak akan berhenti. GC akan meneruskan program-program yang saat ini
telah dirintis. Desa Wisata Konservasi dan
Pengelolaan Keanekaragaman Hayati di Hutan Rakyat Banyuwindu akan terus
dikembangkan. Apalagi desa ini telah menjadi desa binaan GC bekerjasama dengan
masyarakat Banyuwindu, LSM lokal, kelompok remaja, dan Universitas Negeri Semarang.
”Harapannya,
10 tahun mendatang desa ini akan menjadi desa wisata konservasi. Alam tetap
lestari. Dan masyarakat mendapatkan pendapatan dari lingkungan tanpa harus merusak
lingkungan,” ujar Adam. [Luluk Uliyah]
Komentar
Posting Komentar